Bismillahirohmanirrohim.
Puji serta syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat illahirrobbi, berkat rahmat dan karunianya pada saat ini kita masih diberikan umur yang berkualitas.
Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada junjunan kita nabi besar Muhammad SAW serta keluarganya, para sahabatnya dan insya Allah kepada kita semua selaku umat yang selalu setia dan patuh pada syafaat dan ajaran-Nya,
Kita harus senantiasa waspada terhadap sisa umur yang berlaku dengan sia-sia. Panjang usia tapi kosong makna. Atau ada makna tetapi tidak sebanding dengan banyaknya dosa. Allah SWT mengingatkan kepada kita melalui firmannya yang artinya :
“ Bacalah dengan menyebut nama Rabb-mu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq : 1-5)
Umat tidak akan maju tanpa membaca, karena itu salah satu tokoh Yahudi mengatakan : “ Kita tidak takut dengan orang Islam, sebab orang Islam adalah umat yang tidak membaca.”
Memang benar apa yang dikatakan Yahudi tadi. Padahal ia adalah seorang pendusta. Jadi umat yang tidak mau membaca adalah umat yang tak punya harga diri dan tak perlu ditakuti.
Ini adalah masalah yang sangat parah. Sekiranya membaca merupakan suatu hal yang sangat penting, maka materi yang wajib kita baca pun lebih penting dari itu.
Membaca, menulis dan belajar merupakan kebutuhan primer bagi umat mana saja yang ingin bangkit, maju dan meningkat.
Manusia zaman sekarang tidak mau lagi membaca, meski hanya sekadar membaca yang bisa menopang hidupnya agar selamat. Apalagi membaca yang bisa menghasilkan ilmu, menghasilkan keterampilan khusus, dan meraih pengetahuan yang tinggi.
Dengan demikian, sikap berbahaya ini merupakan penolakan terhadap peradaban. Sebab kunci agar umat ini bangkit adalah kalimat ” BACALAH ! ”
Sesungguhnya Allah Maha Memberi Pertolongan.
Sekali lagi ! Selagi kini masih ada waktu dan sisa usia, marilah kita membaca, karena dengan hakikat dan karunia yang agung ini, cukup bandingkanlah antara kondisi diri kita – yang bisa membaca – dengan kaum kerabat, saudara atau teman-teman yang tidak mampu membaca. Dengan cara demikian ini, kita akan mendapati perbedaan yang sangat signifikan antara diri kita dengan mereka.
“ Sebaik-baiknya kekasih dan teman adalah buku.
Engkau bisa berduaan dengannya saat semua kawan mengkhianati.
Ia takkan membongkar rahasiamu, tak pula menjelek-jelekkanmu.
Yang kau dapatkan darinya hanyalah kebijaksanaan dan kebenaran”. Insya Allah !
Wabillahi taufik Wal hidayah, Wassalamu’alaikum wr.wb.
Salam hangat selalu !
SYAHID NURYASIN
Syahid_1@Telkom.net
Filed under: OPINI


Saya setuju dengan pendapat di atas. Banyak umat Islam yang kurang membaca apalagi membaca yang sifatnya keilmuan. Bahkan mahasiswa kita lebih suka bergaya daripada membaca buku-buku serius. Ini satu hal yang sangat disayangkan. Padahal kekalahan umat Islam dari Yahudi bukan hanya dalam kemiliteran, tetapi kemandegan ilmu pengetahuan dan teknologi. Telah banyak pakar yang menulis mengenai hal ini. Sayangnya, umat Islam tidak menaruh perhatian pada usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas anak bangsa minimal dengan membaca. Padahal membaca membuat kita semakin kritis, pintar, dan cerdas.