Jika Harus Serumah dengan Mertua

MENIKAH adalah dambaan semua orang. Terbentuknya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah adalah harapan yang ingin dicapai lewat pernikahan. Namun, membentuk keluarga yang harmonis, bahagia, dan penuh kasih itu tidaklah mudah. Bersatunya dua individu yang berbeda latar belakang serta kebiasaan saja sudah menimbulkan berbagai masalah. Apalagi jika harus tinggal bersama mertua.

Orang bilang, menikah itu tidak hanya menyatukan dua orang, tetapi juga dua keluarga. Proses adaptasi tidak hanya dilakukan terhadap pasangan, juga terhadap keluarganya: bapak, ibu, dan saudara-saudaranya. Apalagi banyak pasangan suami-istri terpaksa tinggal di rumah salah satu pihak orangtua. Hubungan dengan mertua pun sering kali menimbulkan masalah.

Memed (bukan nama sebenarnya) mengeluh soal hubungan dengan mertuanya. Sebagai kepala rumah tangga, Memed mempunyai idealisme bagaimana rumah tangga dibentuk, terutama soal anak. Menurutnya, mertuanya terlalu ikut campur urusan keluarganya.

Suatu hari anak semata wayang Memed yang bernama Mela (1,5) menangis tidak mau berhenti. Ibu sang anak sudah pergi bekerja. Sedangkan Memed tengah bersiap pergi ke tempat kerja.

Dari mulut mungilnya, Mela berbisik “éé” sambil menahan sakit. Rupanya gadis cilik itu ingin buang air besar (BAB), namun merasa sakit karena feces-nya keras. Kejadian itu bukan yang pertama. Sebelumnya, Mela mengalami beberapa kali hal serupa. Putri memed memang susah makan dan tidak mau makan sayuran. Mungkin itu penyebabnya sehingga Mela susah BAB.

Mertua laki-laki mengambil Mela dari pelukan Memed. “Mau dibawa jalan-jalan biar berhenti nangisnya,” katanya. Namun Mela tidak mau dan memangil-manggil ayahnya. Memed pun menyusul dan mengambil Mela dari pangkuan mertuanya.

Mela tetap menangis. Memed hanya sanggup memeluk anak kesayangannya dengan penuh kasih, tanpa tahu apa yang harus diperbuat. Tiba-tiba Mela ingin turun dari pangkuan ayahnya. Tangisnya makin keras. Mertua perempuan datang dan hendak mengambil Mela dengan paksa. “Biarin, jangan dipaksa,” ujar memed.

“Sama kamu juga nangisnya gak berhenti!” Mertuanya tidak mau kalah. Memed tidak rela gadis mungilnya dipaksa. “Udah biarin!” kata Memed sambil menghalangi anaknya agar tidak diambil mertuanya.

Merasa gagal, mertua Memed ngeloyor pergi sambil bicara ketus, “Kayak pengalaman punya anak saja!”

“Sialan,” batin Memed.

Akhirnya Mela berhasil mengeluarkan kotoran yang menyebabkannya menangis. Setelah itu tangisnya mereda.

Yang paling menjengkelkan Memed adalah cara mendidik mertuanya yang dianggap kolot, seperti kalau anaknya jatuh. Mertua Memed memukul lantai sambil berkata “nakal”. Memed tidak setuju cara itu karena anak belajar menyalahkan orang lain yang sebenarnya tidak bersalah.

Arif (34) karyawan sebuar perusahaan swasta juga mengeluh tentang mertuanya. Arif masih tinggal bersama mertuanya. Ketika mertuanya tahu Arif akan membeli rumah, mertuanya ikut sibuk mengatur. Nanti pembantu tidurnya di mana –padahal kamarnya cuma dua, tempat jemuran di mana, dan seterusnya. Padahal uang muka saja belum dibayar karena uangnya masih kurang. Aneh, pikir Arif, toh yang akan menempati ia beserta istrinya. Kenapa mertuanya harus ikut repot?

Ketika anak Arif harus dibawa ke laboratorium, mertuanya ikut sibuk juga. Arif memutuskan ke lab sesuai petunjuk dokter. Mertua Arif malah ingin ke rumah sakit. “Biar si Ade saya yang bawa,” kata mertua Arif.

Indra (37) lebih beruntung. Sang mertua mau mengerti keinginan menantu, misalnya ketika Indra dan istrinya, Indi (27), hendak syukuran anaknya. Terjadi beda pendapat antara Indra dengan istrinya. Indi ingin seperti kebiasaan orangtuanya. Sedangkan Indra ingin dengan cara yang lain. Merasa kalah, sang istri mengadu kepada orangtuanya. Mertua Indra malah menyarankan Indi untuk mengikuti rencana Indra.

“Ikut saja rencana si Aa, nggak apa-apa, itu juga baik,” ujar mertua Indra.

Tidak semua seberuntung Indra. Tidak semua mertua pun memiliki pemikiran seperti mertua Indra. Seringkali yang terjadi kedua pihak ingin memaksakan keinginannya masing-masing sehingga friksi pun tak terhindarkan.

Menurut psikolog Sawitri Supardi, seringkali penyebab konflik antara menantu dan mertua karena tidak adanya saling pengertian. Menantu sebagai pihak yang menumpang diharapkan dapat memahami kebiasaan dan cara berpikir mertua.

Jika sampai terjadi friksi, menantu sebagai pihak yang lebih muda harus mau meminta maaf terlebih dulu. Kemudian bicarakan apa yang ingin dilakukan oleh si menantu. Dengan cara ini diharapkan dapat tercipta saling pengertian ke dua belah pihak.

“Sesuai budaya timur, pihak yang lebih muda harus meminta maaf terlebih dahulu, terlepas siapa yang salah.kemudian diskusikan ke depannya seperti apa,” kata Sawitri.

Bagaimana jika posisi yang menumpang adalah mertua? Menurut Sawitri, pihak yang menumpang harus memahami kondisinya. Artinya, dia menempati rumah yang bukan miliknya. Misalnya, tidak terlalu mencampuri kebiasaan menantunya. Bagaimanapun jika dalam satu rumah ada lebih dari satu kepala keluarga akan timbul bermacam persoalan. Ibarat satu kapal dengan dua nakhoda. Tentu komando berada di tangan dua orang. Yang penting adalah bagaimana kedua pihak mau saling terbuka untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi.

Mertua dan menantu diharapkan mengerti posisinya masing-masing. “Menantu menitikan dirinya dan juga anaknya di rumah mertua. Sedangkan mertua toh menitipkan anaknya pada menantunya,” ujar Sawitri.

Idealnya satu rumah ditempati satu keluarga: ayah, ibu, dan anak-anaknya. Kondisi seperti ini seringkali tidak dapat dicapai karena alasan ekonomi. Jika harus serumah dengan mertua, menantu harus mau mengerti posisinya. Pihak mertua pun diharapkan mau mengerti keinginan menantunya. Jika hal ini dapat tercapai, keluarga yang harmonis dan bahagia bukan hanya impian. Anak-anak pun dapat tumbuh kembang optimal mengikuti perkembangan zaman. (SH).*

Leave a Reply